Antara DKKG dan DKG, Maman Sudarman: Majulah Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut

0 103

LOGIKANEWS.COM – Dewan pembina DKG (Dewan Kesenian Garut), Maman Sudarman ikut memberikan apresiasi kepada DKKG (Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut) yang akan melaksanakan kegiatan budaya selama Tujuh hari dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2018. Menurutnya, para penggagas yang membentuk DKKG berikut pagelaran budaya merupakan langkah besar yang menjadi warna baru dalam upaya meningkatkan dan melestarikan budaya di Kabupaten Garut.

“Banyak rekan-rekan yang aktif ditengah masyarakat yang kreatif. Saya bersyukur masih bisa belajar dan rekan-rekan DKKG. Bertukar pikiran dengan rekan-rekan yang produktif. Terus terang, berbicara masalah gagasan itu mahal. Gagasan secara moril tidak bisa dinilai dengan materi, gagasan untuk mengadakan satu pagelaran itu saya apresiasi,” papar Kang Maman Sudarman disaat menghadiri acara silaturhim dan pembahasan persiapan Gelar Budaya yang akan diselenggarakan DKKG selama Tujuh hari, Senin (05/10/2018).

Kang Maman juga menyamoaikan, dirinya sempat berfikir siapa orang yang berani dalam tempo sekian singkat untuk melakukan pegelaran seni budaya yang begitu banyak komponen di undang. “Saya sendiri tidak sanggup, padahal saya aktif di organisasi seni sejak tahun 1977. Pertama aktif di Garut Education Family. Saya langsung ditangkap polisi, di jaman orde baru,” terang Kang Maman.

Dalam kesempatan itu, Kang Maman Sudarman sedikit berbagi cerita tentang perjalanannya di dunia seni. Pada saat dirinya duduk di bangku SMA dulu dan dia bergabung dengan para seniman dan budayawan, namun saat itu dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Waktu itu, pekerjaan saya hanya diberikan surat untuk diantar-antarkan. Berjalannya waktu, saya merubah mindset permikiran saya. Karena apa, karena kawan-kawan saya memberikan pola pemikiran yang lain,” katanya.

Kang Maman sudarman mengakui bahwa dirinya dulu adalah orang yang paling menyebalkan. “ Usia semakin lanjut, lalu saya berfikir, saya ini orang paling nyeblin di jaman dulu. Maman Sudarman paling nyebelin, paling nyeleneh. Tapi karakter dasar, karakter saya ingin apa saja yang diimpikan, dipikirkan dan dijalankan lalu jadi. Dahulu ingin menjadi Ketua Bareta (Bina Remaja Taruna Negara) tahun 1980. Tahun 1986 saya jadi Ketua Bareta, melahirkan Festival Vokal Grup saya ngalamin menjadi ketua Panitia. Rekan-rekan saya dahulu ada di tempat ini, saudara Dadeng, Cecep dan banyak lagi rekan-rekan,” ungkapnya.

Menurut Kang Maman Sudarman, gagasan Dewan Kesenian hanya 11 orang yang melahirkan pada saat itu. Sekarang ada DKKG. Dewan Kesenian Garut itu bukan gagasan saya, saya hanya sempat melahirkan membuat konsep Dewan Kesenian Garut. Dulu bukan DKG, DKG itu merupakan hasil kemufakatan berdasarkan evaluasi, berdasarkan tinjauan ke beberapa daerah.

“Ada dewan Kesenian Jakarta, Dewan Kesenian Banten , Indramayu dan lainnya di Indonesia, tetapi secara hirarkis tidak ada kaitannya dengan provinsi dan pusat itu secara otonom. Tahun 2000 saya melahirkan Dewan Kesenian, saat itu masih aktif Badan koordinasi Kesenian Nasional Indonesia itu saya usulkan untuk divakumkan  pada jaman reformasi, menyesuaikan pada kegiatan-kegiatan. Berubah pada saat itu,” paparnya.

Kang Maman menambahkan, lembaga yang ia bentuk bersama kawan-kawannya  pertama kali bukan Dewan Kesenian tapi Badan Musyawarah dan Seniman Budayawan Garut. Berbicara soal budaya itu berat, menurut ukurannya hal itu cukup berat. Karena harus melibatkan semua unsur, maka tahun 2007 sampai sekarang berjalan, Dewan Kesenian terjadi fluktuatif.

“Sebelum Dewan Kesenain saya membuat Adhock dulu. Penjelasan Kang Cecep Barnas pemilik Padepokan Subarna pada  tahun 1980 bersama dirinya. Saat itu dibentuk Empat lembaga Adhock. Pembentukannya di rumah Kang Memet. Saat itu ada Asosiasi Musisi Garut, Perupa Garut, STSBS dan Himpunan Seniman dan Sastrawan Garut, semua ada. Setelah ada dewan Kesenian semua itu saya hapus,” ungkapnya.

Kang Maman berpendapat, respon rekan-rekan dari DKKG terhadap UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan itu bagus, positif sekali, tidak ada masalah, bisa beriringan dengan dewan Kesenian Garut. Cuman namanya jangan sama. Dewan Kesenian Garut itu sudah lama berdiri, sudah melalui tahapan, Dewan Kebudayaan Garut baru, persoalan nama silahkan.

“Saya tidak iri, saya bangga dengan Dewan kebudayaan, itu sebabnya saya berharap gagasan yang bagus ini harus dikemas dengan bagus juga. Persiapannya harus bagus juga, tidak mudah melahirkan gagasan. Keinginan dan inisiatif seseorang perlu direspon, saya belajar dari rekan-rekan. Begitu silaturahmi dalam pemikiran saya mudah-mudahan bisa belajar kepada generasi sekarang. Tetapi saya tidak pernah berhenti dari aktifitas, sekalipun saya bukan seniman, saya mengamati menjalani kepentingan kepentingan seniman. Di setiap komunitas, di Kadin dan lainnya ada. Bukan keinginan saya mencari sesuatu yang wah menjadi pengurus,” tandasnya.

Kang Maman sudarman berharap  silaturahim ini menjadikan semua pihak bagian yang terbaik di Garut, bagian yang terkemuka di Kabupaten Garut. Namun silahkan pikirkan lagi soal nama.

“Dewan Kesenian tidak terakuisisi. Berkaitan dengan UU No.20 tahun 2016 disitu akan muncul siapa yang berhak mendapatkan nama dewan di satu geografis Garut. Saya kira tidak akan membahas secara detil dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Majulah Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut. Saya merespon, saya mengapresiasi gagasan ini. Saudara Iwan jangan mundur, saudara harus menjadi orang terdepan,” pungkas Kang Maman Sudarman disambut tepuk tangan semua pihak yang hadir saat itu. (Asep Ahmad)

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.