Asep Santana: Budaya Sunda Mulai Tergerus, DKKG Harus Bangkitkan Jiwa Patriotisme

0 88
BERBAUR: Asep Santana alias Ceuceu saat mengikuti rapat persiapan Pagelaran Seni dan Budaya yang akan diselenggarakan DKKG, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan RI, tanggal 10 November 2018 mendatang. (FT:Asep Ahmad)

LOGIKANEWS.COM – “Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya memberanikan diri menyampaikan sedikit pembicaraan, tetapi mudah-mudahan ini menjadi ingatan. Budaya kita semua, saya yakin semua tidak menutup mata bahwa budaya kita sudah tergerus, sudah mulai dihilangkan, karena terlalu nyaman dengan budaya negara lain,” demikian awal sambutan penasehat DKKG (Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut), Asep Santana, diacara silaturahim DKKG, di Halaman Museum Garut, R.A.A Adiwidjaya, Simpang Lima, Garut.

Pria yang dikenal dengan nama Ceu Ceu dikalangan pelaku seni Kabupaten Garut ini mengatakan, Sunda salah satu budaya yang memiliki Ajen (harga diri dan wibawa, red) yang sekarang Ajennya sudah mulai hilang. Bahkan bahasa Sunda hanya satu-satunya yang memiliki Ajen. Dalam Bahasa Sunda, kata demi kata untuk orang tua, guru, orang yang lebih muda itu beda. Di dalam budaya Sunda, ada yang namanya Wiraga, Wirahma dan Wirasa.

“Wiraga atau prilaku orang Sunda tidak sombong, tetapi sopan santun dan beretika. Wirahma, kalau berbicara itu halus, tidak pernah dengan suara keras dan kasar, lalu disana ada Wirasa. Ketiga hal itu saat ini mulai hilang. Saya agak dalam membahas ini. Bukan membeda-bedakan  budaya yang satu dengan yang lainnya,” katanya.

Menurutnya, tatanan-tatanan  itu budaya nampak jelas. Ketika tidak berbudaya apapun kegiatannya, ketika etika budayanya sudah hilang, maka yang ada hanya rasa muak dan sebel yang tersisa. “Yang dikahawatirkan oleh saya prbadi, apakah semua peristiwa di lingkungan kita akan terus seperti ini. Kita semua tahu, ketika jaman dahulu ada istilah Sabilulungan, sekarang sudah tidak ada. Gotong royong, sudah tak ada. Sedangkan leluhur kita yang disebut Siliwangi, Rajanya Kerajaan Padjajaran begitu indahnya,” ungkapnya.

Ceu Ceu menegaskan, di Sunda ada kerajaan yang disebut Padjajaran. Beberapa hal di Padjajaran persis dengan sejarah Rosulullah Muhammad SAW. “Apakah di jaman Rosulullah terdengar beliau memiliki staf dan anak buah, kan tidak ada. Yang terdengar hanya ada kata sahabat Rosul. Artinya, duduk sama rendah berdiri sama tinggi yakni Sejajar atau Padjajaran,” ungkapnya.

Aturannya dan penataan harus menggunakan rahmatan lilalamin, saling menyayangi, saling berbaikan, saling menghantarkan, saling sampaikan, saling katrol, saling mewangikan. Bukan saling menjelekan, saling menjabak dan lainnya. “Mari kita kembalikan lagi budi pekerti sebagai jatidiri Budaya Sunda dan budaya bangsa. Tata krama yang menjadikan kekuatan yang hebat. Mohon maaf sebelumnya, bukan mengggurui, tetapi ini saling mengingatkan,” papar Ceuceu.

Mengulas hari Pahlawan 10 November, Ceu ceu mengajak semua pihak untuk kelambli ke masa-masa lalu. “Silahkan diingat-ingat lagi, dahulu ketika memperingati kemerdekaan Republik Indonesia atau Agustusan. Budaya di kita jaman dahulu ketika ada Agustusan, diawali dengan misi yang dikedepankan yakni misi budaya untuk menimbulkjan jiwa patritosme. Bagaimana agar masayarakat bisa lebih mencintai negaranya. Setiap panggung mengadakan drama sejarah perjuangan. Sampai kita benci lagi terhadap penjajah Belanda,” ujarnya.

Saat ini, kata Ceu Ceu kadang-kadang bahasa dan bahasan tidak nyambung. Sudah banyak yang hilang, di 17 Agustusan, sudah jarang yang mengangat sejarah penjajahan. Untuk itu mulai dari sekarang para pelaku budaya mari kita galakan kembali budaya Sunda. “Kalau bisa di 42 kecamatan budayawan hadir. Adakan lagi acara budaya yang mengangkat patriotisme, khususnya untuk masyarakat Garut,” ajak Ceuceu.

Diakhir sambutannya, Asep Santana alias Ceuceu menyampaikan permohonan maaf apabila ada perkataannya yang kurang tepat. Namun Ceuceu juga kembali mengingatkan bahwa setiap rencana pasti ada izin dari sang pencipta. “Setiap kegiatan yang kita lakukan dimana-mana ada kepastian dan skenario dari Allah SWT.  Kalau kata Allah besok ya besok, kata Allah lanjutkan ya lanjutkan dan apabila Allah SWT tidak menghendaki maka tidak akan pernah terwujud apa yang kita inginkan. Untuk itu, mari kita berlaku hidup dengan aturan. Saya sependapat dengan kegiatan budaya selama Tujuh atau beberapa hari, Insya Allah kalau tekad dan niat kita baik akan sukses,” katanya.

Ceuceu kembali mengingatkan bahwa semua tatanan misi seni harus bia membungkus budaya. Harapan budayawan ditampilkan oleh seniman. Ada Tatalu yang artinya nata unggal hulu, Tatakolan, nata bari diekolan dan Tatabeuhan, nata pikaseubeuhan yakni makanan atau konsumsi.

“Ingat tampilan seni hanya kemasan, didalamnya adalah budaya. Didalam semua kegiatan seni ada tuntunan yang dikembalikan kepada wiraga, wirahma dan wirasa. Budi dan daya artinya tatakrama dan kekuatan. Budaya adalah budi pekerti. Budaya bisa dimulai dari menghormati orang  tua, keluarga dan sesama hidup. Maka disana akan menjadi indah,” ujar Ceu Ceu berpesan.

Mudah-mudahan kegiatan yang digagas oleh DKKG berjalan lancar serta menjadi langkah besar yang memang seharusnya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan Sunda yang cukup banyak harus kembali digali dan berdayakan, hingga terus lestari di kalangan masyarakat dan di tengah-tengah bangsa ini. (Asep Ahmad)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.