Bangun Budaya Sadar Bencana Mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung Berkunjung ke Kantor BNPB

0 331

LOGIKANEWS.COM –  Mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung beserta dosen dan staf Prodi Kesehatan Masyarakat sebanyak 37 orang berkunjung ke Gedung Graha BNPB Jl. Pramuka Kav. 38 Jakarta Timur, Senin (05/08/2018). Rombongan tersebut diterima oleh Rita Rosita S selaku Kabid Humas, Aryo Akbar Lomba Kasubid Media Elektronik dan Rusnadi Suyatman Pranata Humas Ahli.

Kunjungan dimulai dengan paparan penanggulangan bencana dan diskusi di lantai 11 gedung Graha BNPB bersama Aryo Akbar Lomba selaku Kasubid Media Elektronik. Aryo Akbar Lomba dalam paparannya mengatakan, kesadaran merupakan elemen penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

“Kesadaran merupakan elemen penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Salah satu pendekatan untuk membentuk kesadaran adalah melalui media edukasi. Saat ini, di Indonesia fasilitas edukasi bencana yang informatif dan menarik masih sangat terbatas. Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengembangkan diorama kebencanaan sebagai media edukasi publik, Selain itu BNPB telah membuat program pemetaan daerah rawan bencana, peta analisis resiko dan dampak yang dihasilkan oleh suatu daerah rawan bencana. Sehingga masyarakat selalu waspada dan tahu cara-cara menyelamatkan diri. Dengan begitu kita bisa mengurangi resiko,” kata Aryo membuka acara diskusi.

RAWAN BENCANA: Dosen mata kuliah Epidemiologi Bencana STIKes Dharma Husada Bandung, H Asep Ruslan mendampingi mahasiswanya. Tujuannya ke BNPB untuk mengingatkan pentingnya belajar bencana di daerah rawan bencana. (FT: Ruslan)

“Selanjutnya ilmu penanggulangan bencana yang sudah adik-adik mahasiswa kuasai, harus diaplikasikan dilapangan dan dibagikan kepada yang lainnya agar terbentuk budaya sadar bencana,” ujar Aryo.

Asep Ruslan Dosen mata kuliah Epidemiologi Bencana STIKes Dharma Husada Bandung yang mendampingi mahasiswa dalam sambutannya mengatakan, pentingnya belajar bencana karena kita tinggal di daerah rawan bencana.

“Kunjungan mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung ke BNPB ini terkait kegiatan praktikum lapangan. Pentingnya belajar bencana karena kita tinggal di daerah rawan bencana. Namun, tidak banyak yang tahu apa yang terjadi dan apa yang harus disiapkan menghadapi bencana. Bencana sangat berpengaruh terhadap pembangunan berkelanjutan. Bencana berdampak pada tiga dimensi yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Diharapkan mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung yang berkunjung ke Diorama BNPB dapat menambah pengetahuannya dalam penanggulangan bencana,” kata Asep.

Selanjutnya kunjungan dilanjutkan dengan Tour di lantai 11 dan 12 lokasi diorama BNPB bersama Rusnadi Suyatman selaku Pranata Humas Ahli. “Diorama BNPB memberikan informasi seputar bencana dan perkembangan dalam penanggulangan bencana yang sudah dilakukan BNPB. Diantaranya bencana Tsunami Aceh, longsor di Banjarnegara, longsor di Tasikmalaya, kebakaran hutan di Kalimantan, Erupsi Gn. Merapi, Erupsi Gn. Sinabung, banjir di DKI Jakarta dan berbagai macam bencana alam lainnya,” kata Adi.

“Kini indikator bencana tiap tahun semakin tinggi tercatat berdasarkan data bencana BNPB terhitung sejak tanggal  (30/04/2018) telah terjadi jumlah bencana sebanyak 1.017, dengan kejadian bencana puting beliung 393, banjir 330, tanah longsor 251, Karhutla 28, Gelombang pasang/abrasi 7, gempabumi  5 dan letusan gunung api 3. Akibat terjadinya berbagai bencana tersebut menyebabkan korban meninggal dan hilang sebanyak 115 jiwa, luka-luka 415 jiwa, menderita dan mengungsi 660.480 jiwa. Kerusakan akibat bencana tersebut menyebabkan rumah rusak 19.240, rumah terendam 114.535, fasilitas pendidikan 205, fasilitas peribadatan 202 dan fasilitas kesehatan 23,” ujar Adi.

“Masyarakat bisa berkunjung ke BNPB untuk belajar sehingga bisa memiliki pengetahuan tentang kebencanaan,” pungkas Adi. Diorama BNPB resmi dibuka pada tanggal 04 April 2016 dan telah menerima kunjungan lebih dari 200 kali setiap tahunnya,” imbuh Adi.

Asep Ruslan yang mendampingi mahasiswanya Tour di lantai 11 dan 12 lokasi Diorama BNPB, kepada mahasiswanya mengatakan bahwa tingginya kejadian bencana karena Indonesia diapit oleh dua samudera besar dunia dan posisi geologis Indonesia pada pertemuan tiga lempeng utama dunia serta kondisi permukaan wilayah Indonesia yang sangat beragam,

“Tingginya kejadian bencana karena Indonesia berada di wilayah posisi geografis Indonesia yang diapit oleh dua samudera besar dunia (samudra Hindia dan samudra Pasifik). Posisi geologis Indonesia pada pertemuan tiga lempeng utama dunia (lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik). Serta Kondisi permukaan wilayah Indonesia (relief) yang sangat beragam,” kata Asep.

“Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari pulau Sumatera – Jawa – Nusa tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan daratan rendah yang sebagian di dominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor,” ujar Asep.

Sementara itu, Rudy mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung yang berasal dari Ngabang Provinsi Kalimantan Barat, tertarik dengan Diorama BNPB sebagai bahan edukasi ke masyarakat mengenai berbagai hal yang terkait bencana dan penanggulangannya.

“Saya sangat tertarik belajar penanggulangan bencana. Saya lihat diorama BNPB memiliki tampilan yang luar biasa seperti diorama Gunung berapi secara 3 dimensi, terdapat sejarah dan informasi dalam penanggulangan bencana gunung api,” kata Rudy.

“Diorama BNPB sebagai bahan edukasi ke masyarakat mengenai berbagai hal yang terkait bencana, seperti Gunung Api, Banjir, Tsunami, Angin Puting Beliung, Tanah Longsor, Kebakaran Hutan & Lahan, Gempa, Kekeringan dan sebagainya,” pungkas Rudy.

Sumpena, S.KM, staf kependidikan Prodi Kesehatan Masyarakat STIKes Dharma Husada Bandung di lantai 11 Gedung Graha BNPB, Senin 06/08/2018, kepada Logikanews.com (Group Majalah Logika dan Majalah Intan) mengatakan bahwa tujuan kunjungan mahasiswa ke BNPB Pusat, supaya mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori di kelas tetapi menambah sumber dan pakteknya dilapangan.

FOTO BERSAMA (Prodi) Sumpena, Kabid Humas BNPB, Rita Rosita S, Dosen H Asep Ruslan dan Staf Humas BNPB, Rusnadi Suyatman. (FT: Ruslan)

“Dilihat dari tujuan kunjungan mahasiswa ke BNPB Pusat adalah supaya mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori di kelas tetapi menambah sumber dan pakteknya dilapangan secara teoritis kita coba datangi BNPB supaya mahasiswa menambah lagi wawasannya dan sumber yang lebih  sesuai dengan tujuan bahan ajar silabus dan distribusi mata kuliah tujuan PBM akan tercapai,” kata Sumpena.

Ditempat yang sama Dinda Fauzily mahasiswi semester 6, merasa senang dengan adanya kegiatan kunjungan ini. Karena banyak ilmu pengetahuan baru tentang bencana dan penanganannya.

“Dengan kunjungan ke BNPB kami mengetahui peristiwa bencana yang terjadi di Indonesia. Dampak dari bencana tersebut baik dari segi finansial, psiko sosial maupun kerugian materi dan penyakit. BNPB mempunyai struktur dan prosedur dalam penanganan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana sehingga dalam penanganan bencana tsb bisa tertangani dan terkoordinir dengan baik dari pusat hingga ke daerah,” kata Dinda.

“Sebagai calon Tenaga Kesehatan bisa berkontribusi dalam manajemen bencana dari pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Dan dapat melakukan tindakan preventif dan promotif dalam menghadapi bencana terutama untuk pencegahan dan penanganan penyakit akibat bencana,” harapan Dinda. (Ruslan)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.