FK3I: Pasca Banjir Bandang Gunung Masih Gundul

0 208
KETUA FK3I, Mia Kurniawan. (FT: Asep Ahmad)

LOGIKANEWS.COM – Koordinator Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK31), Kabupaten Garut, Mia Kurniawan mengkritisi penggunaan bantuan Pemerintah Pusat 32 M milyar untuk rehabilitasi DAS (Daerah Aliran Sungai) Tahun 2016 pasca banjir Bandang Garut.

Menurut pegiat lingkungan ini, fakta di lapangan sampai saat ini gunung tetap gundul. Ini artinya negara tidak bisa menjamin upaya menanggulangi banjir bandang lagi. Dalam hal ini, seharusnya Pemkab Garut mampu meminimalisir bahaya bencana.

“Kalau dilihat dari segi keberhasilan, maka populasi pohon untuk tutupan lahan relatif tertahan. Padahal, minimalnya populasi pohon harus bertambah,” ujar Mia saat berbincang dengan LogikaNews.com di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Salah satu upaya pemerintah untuk melakukan rehabilitasi DAS sebagai upaya penanggulangan banjir bandang menggunakan sistem tekhnologi Aero Seeding dengan menggunakan pesawat terbang. Hal inilah yang dianggap Mia tidak tidak tepat.

“Tekhnologi Areo Seeding  atau penyebaran bibit pohon melalui udara yang menggunakan pesawat Helikopter di Garut itu tidak tepat. Untuk melakukan penebaran bibit itu seharusnya menggunakan pola penanaman secara manual,” papar Mia diamini Agus Riyanto.

Selain sistem itu, pelaksanaan penanaman juga dianggap tidak tepat waktu. Meski dan apabila penanaman itu masuk pada anggaran pemeliharaan atau tidak, penanaman itu tidak dilakukan pada musim hujan. “Pelaksanaan penanaman bibit itu seharusnya pada waktu musim hujan. Tetapi yang dilakukan di Kabupaten Garut bukan pada musim hujan. Bagaimana bibit itu bisa tumbuh dengan baik,” ujar Mia.

Kembali pada sistem penyebaran bibit melakukan tekhnologi Aero Seeding, apabila dilakukan di Jawa Barat, maka jelas hal itu sangat kurang tepat. Hal itu berbeda apabila dilakukan di luar Jabar. “Sebagai fakta dan pembuktian, saya menduga sampai saat ini tidak ada bibit yang disebar yang tumbuh satu pun. Silahkan dicek dan dievaluasi lagi,” tutur Mia.

Sebagai gambaran, Mia menjelaskan program penggunaan anggaran bencana rehabilitasi DAS dibagi tiga metode. Pertama metode penyebaran bibit secara manual, kedua secara Aero Seeding dan ketiga untuk pembuatan cekdam (perbaikan tanggul sebagai penahan erosi mengurangi sedimentasi agar tidak masuk sungai utama).

“Anggaran sebesar Rp 32 Milyar itu digunakan untuk Tiga metode. Khusus untuk Sistem Tekhnologi Aero Seeding saya anggap tidak tepat, apalagi dilakukan diluar musim hujan,” tegas Mia dengan nada kecewa.

Dalam kesempatan itu, Mia juga mengatakan, dalam Perhutanan Sosial (PS) harus ada fungsi pendamping agar aturan bisa dilaksanakan dengan baik. Hal itupun masuk pada konservasi tanah. Karena berbicara masalah konservasi bukan hanya tanamannya saja, tetapi juga mencakup lahan dan air. “Yang berkaitan dengan semua ekosistem yakni binatang dan mahluk hidup lainnya pun masuk pada konservasi,” ujarnya.

Forum Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (FTKPRD) seluruh stakeholder di Pemkab Garut masuk pada unsur itu. Mulai dari kepolisian, kejaksaan, perhutani dan (Badan Koservasi Sumber Daya Alam) BKSDA.

“Namun tetap ujung tombaknya ada di bupati. Artinya kalau TKPRD berjalan, maka seharusnya ada evaluasi per tiga bulan. Mereka harus melakukan evaluasi tentang program apa saja yang dilaksanakan. Dimana titik hambatan dan pelaksanaanya sudah sejauh mana,” papar Mia.

Pria berkumis tipis ini menambahkan, sesuai amanat UU, sepertinya program itu tidak berjalan dengan baik. Maka, bupati pun berwenang memanggil semua stake holder untuk melihat penyesuain secara hukum. “Saya menilai banyak juga kasus yang menguap. Seperti alih fungsi dan perambahan serta  illegal loging. Tidak hanya itu saja, pemburuan satwa pun masih terjadi di Kaupaten Garut.

Pemburu Liar

Mia mengaku dirinya terakhir kali menemukan pemburu liar di Gunung Cikuray yang membawa sangkar burung. Ada Empat jenis burung yang dibawa ke pasar burung. Satu ekor burung senilai kurang lebih Rp 50 ribu. “Apabila dikalikan 4 ekor setiap hari, berapa banyak burung yang hilang di Gunung Cikuray,” tanya Mia.

Faktor ekonomi, sambung Mia yang menjadikan para pemburu berani melakukan pemburuan. Karena, apabila berbicara soal pengetahuan mereka sudah memahaminya. Dan soal habitat jenis hewan apa saja yang dilindungi negara, merekapun kebih paham.

“Akibat pemburuan itu banyak hewan yang hilang seperti burung Anis Haruman. Dan masuknya para pemburu ini melalui lahan alih fungsi menjadi budidaya holtikultur. Untuk itu Pemerintah harus melakukan sosialisasi tentang UU dan upaya pencegahan, karena sudah banyak pelanggaran dan bahaya lingkungan di Kabupaten Garut,” tandasnya. (Asep Ahmad)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.