Garut Bahas Persoalan Sampah Melalui Workshop

LOGIKANEWS.COM – Workshop Multistakeholder Pengelolaan Limbah Plastik dan Sumber Energi Alternatif sebagai wujud kerjasama antara Pemda Garut dengan Earthworm Indonesia dan Givaudan di aula Setda Garut, Rabu (17/03/2019) berjalan lancar.

Acara yang dipimpin Sekda Garut, Ir Deni Suherlan menghadirkan narasumber diantaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Garut, Asep Suparman, pengusaha pengelola limbah plastik di Kabupaten Garut sekaligus Sekjen ADUPI (Asosiasi Daur Ulang Sampah Indonesia) Helmi Purwandini, Projects Manager Earthworm Indonesia, Bahrun serta Akademisi Institut Tekhnologi Bandung (ITB), Dr Eeng Pandji Prawishuda ST MT.

Rangkaian acara seminar yang dimulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 16.00 WIB terdiri dari pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, kata pengantar dari Earthworm/Givaudan, sambutan Bupati Garut, H Rudy Gunawan SH MH MP yang diwakili Sekda Garut Sera sesi foto bersama.

Selain itu, acara dilanjutkan dengan Orientasi Workshop, sesi panel 1 dan 2 yang diteruskan dengan diskusi interkatif dan diakhiri dengan perumusan dan pembacaan rekomendasi workshop.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamanan (DLHKP) Garut, Asep Suparman mengatakan, di Kabupaten Garut sudah ada perda tentang pengelolaan sampah, terhadap aparat di lapangan terutama di 12 kecamatan sudah disosialisasikan, tetapi belum bisa masif.

“Perda No.4 tahun 2014 diharapkan bisa dilaksanakan. Masyarakat tidak bisa membuang sampah sembarangan, karena harus membuang sampah di tempat yang telah disepakati yakni TPS,” katanya.

Menurut Asep Suparman mengatakan,, di Garut belum bisa memberikan sangsi kepada masyarakat pembuang sampah sembarangan, karena memang belum memiliki sarana dan prasarana yang maksimal,” terangnya.

Sementara, sambung Asep Suparman, di daerah lain bagi pembuang sampah sembarangan sudah diberikan sangsi, bahkan sudah ada OTT (Operasi Tangkap Tangan) pembuang sampah.

“Namun demikian, Dinas Lingkungan Hidup bersama Bupati Garut, H Rudy Gunawan terus berupaya melakukan penyadaran tentang penanggulangan sampah termasuk akan membuat MoU dengan Dinas Pendidikan terkait penyadaran pembuangan sampah di sekolah-sekolah,” ujar Asep Suparman.

Menurut Asep Suparman, tahun 2019 sudah ada satu pola sistem pengelolaan sampah yang akan dilaksanakan sebagai bentuk komitmen Bupati Garut terhadap pengelolaan sampah.

“Pembuangan sampah akan dilakukan ke Legok Nangka, namun ada persoalan yang harus dipikirkan yaitu tentang anggaran pembayaran tempat serta daerahnya yang sangat terjal. Biaya kewajiban yang harus dibayar sebanyak Rp120.000 per ton. Sementara Garut akan membuang sampah dengan jumlah cukup tinggi yang mencapai ratusan ton setiap harinya. Belum lagi persoalan bahan bakar dan kendaraan pengangkut sampah,” ujarnya.

Dikatakannya, volume sampah di Garut kecenderungan meningkat. Dari 12 kecamatan saja hampir 600 ton sampah perhari, karena kondisi jalan dan kendaraan saat ini hanya 100 ton yang bisa terangkat, sehingga masih banyak sampah yang belum terangkat.

Salah satu persoalan menyelesaikan masalah sampah diantaranya ada investor yang mengajak bekerjasama dengan Pemkab Garut, tetapi dengan catatan ada keharusan membuang sampah dengan volume 2000 ton, sehingga ini tidak bisa dilanjutkan.

“Semua persoalan ini harus dicari solusi bersama-sama. Mudah-mudahan dari stakeholder yang hadir di workshop ini bisa membantu dan memberikan solusi terkait sampah di Kabupaten Garut,” katanya.

Pengusaha daur ulang sampah plastik, Helmi Purwandini mengatakan, pihaknya saat ini sudah bisa mendaur ulang beberapa jenis plastik sampai 100 ton sampah perbulannya. Masyarakat harus tahu dan paham bahwa sampah tidak sekedar sampah. Sampah bernilai ekonomis dan bisa dikelola, dari hulu sampai hilir.

“Sebuah keniscayaan sampah bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan, tetapi sarana dan prasarana yang harus disiapkan. Anggaran untuk sarana dan prasarana bisa menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD),” paparnya.

“Kita sudah ada pola dari hulu ke hilir. Memang pengelolaan sampah pasti tidak mudah, tetapi kalau kita betul-betul fokus dan serius ini sudah jelas menghasilkan. Ditambah lagi, saat ini dari berbagai pihak, seperti kementerian, pihak perusahaan serta organisasi lain sudah konsen dalam pengelolaan sampah,” terangnya.

Menurut Helmi, mulai tingkat RT dan RW bisa melakukan pengelolaan sampah bisa terwujud. Yang saya kerjakan lebih bersifat pelaksanaan CSR kepada masyarakat setempat. Kalau tiap daerah memiliki TPA dan pengelolaan sampah sendiri, maka persoalan sampah bisa teratasi.

“Karena ketidaktahuan saja yang menyebabkan persoalan sampah terus menjadi persoalan yang belum terpecahkan. Perlu langkah awal yang nyata agar persoalan sampah bisa teratasi dengan baik,” tandasnya.

Acara ini mendapatkan dukungan dan antusias cukup baik dari berbagai pihak. (Asep Ahmad).

LOGIKANEWS.COM

Diterbitkan Oleh : PT Tangguh Tunggal Media (No AHU -0021249.AH.0101.Tahun 2017 Tentang Perusahaan Media) Penerbitan sesuai: 1. UU no 40 Tahun 1999 tentang Pers 2. Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers tertanggal 30 Januari 2012 3. Surat Edaran Dewan Pers No. 01/SE-DP/I/2014 tentang pelaksanaan UU Pers dan Standar Perusahaan Pers. Redaksi www.logikanews.com Pemimpin Umum dan Penanggung Jawab: Asep Ahmad Pimpinan Redaksi: Asep Ahmad Wartawan: Asep Ahmad, Syarif Hidayat, Rian Sutisna, Janoka, Asep Ruslan, N.I Nurlaela. Pengaduan: 081287075222

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *