Gempa dan Tsunami Melanda Donggala dan Palu

0 148

LOGIKANEWS.COM – Jumat, 28 September 2018 pukul 17.02 WIB, Gempa hebat disusul Tsunami melanda Palu dan Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Seisi kota panik luar biasa berhamburan ke luar Rumah, Masjid, Hotel, Rumah Sakit dan Gedung-gedung lainnya untuk menyelamatkan diri.

Tsunami setinggi 2-5 meter datang bergulung-gulung dari Teluk Palu menerjang benda apa saja yang ada di hadapannya. Bahkan tsunami sampai masuk di lantai 2 Palu Grand Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota Palu.
Dampaknya Jembatan Vatulemo ikon kota Palu roboh. Jembatan Kuning di Pantai Talise dan jembatan Ponulele yang menghubungkan Donggala Barat dan Donggala Timur hancur.

Masjid Arkam Babu Rahman atau masjid Terapung, yang lokasinya dekat Jembatan Kuning patah penopangnya. Masjid Baiturahman yang kubahnya roboh akibat gempa 7,4 Magnitudo sebelumnya habis terendam oleh air laut.
Pasca gempa dan tsunami, aliran listrik padam total dan saluran komunikasi terputus, suasana Donggala dan Palu gelap gulita sangat mencekam.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, menemukan data, sebagian tsunami yang terjadi itu mencapai ketinggian 5 meter. “Kami dapat laporan tadi ada orang yang menyelamatkan orang dengan naik ke pohon yang tingginya hampir 6 meter,” kata Sutopo, Sabtu (29/09/2018).

Dimana sebelumnya Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Donggala dan Palu punya sejarah kebencanaan yang cukup panjang. Gempa dan tsunami yang terjadi kemarin pada Jumat (28/09/2018) bukan peristiwa yang pertama terjadi. “Jadi sesar, patahan palu koro yang membelah Sulawesi jadi dua, ini sangat aktif sekali. Tiap tahun selalu bergeser 35-45 mm per tahun. Suatu saat, periode tertentu mereka akan lepas, akan terjadi gempa bumi,” ujar Sutopo.

BNPB mencatat terhitung hingga pukul 15.00 WIB sore hari ini, Sabtu (29/9/2018),ada 131 gempa susulan dan 5 gempa yang dirasakan di Donggala dan Palu. Gempa bumi susulan itu dihitung setelah terjadinya gempa magnitudo 7,4 pada Jumat (28/9/2018) kemarin.

Data terakhir yang dipunya BNPB, Sabtu (29/09/2018) per pukul 13.00 WIB total korban meninggal dunia di Palu mencapai 384 orang. Korban hilang 29 orang dan luka berat 590 orang. Untuk Donggala, petugas belum mendapatkan data korban.

Mengenai jumlah bangunan yang rusak sangat besar. Selain Palu Grand Mall, juga Mal Tatura Jala yang hampir roboh. Bahkan Hotel Roa Roa di Jalan Pattimura. Hotel berlantai 8 ini terdapat 80 kamar roboh seluruhnya. 76 kamar hotel yang terisi oleh tamu, sampai berita ini diturunkan belum jelas bagaimana nasibnya.
“Ketersedian terbatas. Personel terbatas. Kita imbau masyarkat bersabar. Pemerintah pasti berikan bantuan,” jelas Sutopo.

Total pengungsi di Kota Palu 16.732 orang dengan sebaran :
– Lapangan Vatulemo: 1.000 orang
– Halaman perkantoran: 2.000 orang
– Bundaran Biromaro: 2.000 orang
– Markas Korem: 300 orang
– Masjid Raya Palu: 300 orang
– Poboya Mako Sabhara: 5.000 orang
– Lapangan Anoa: 100 orang
– Lapangan Paqih Rasyid: 500 orang
– GOR Siranindi: 200 orang
– Belakang Basarnas, belakang kantor Gerindra, sekitar Jalan Basuki Rahmat: 100 orang
– Jalan Maleo 91: 100 orang
– Pantoloan Boya (SD belakang Pustu): 200 orang
– Gunung Pantoloan Boya: 500 orang
– Camping Baiya: 882 anak
– Pantoloan Boya 3 titik: 200 orang
– Kantor Dinsos: 100 orang
– Lapangan Perdos: 1.000 orang
– Jalan Garuda: 250 orang
– Lapangan Dayodara: 700 orang
– Halaman Detasemen: 100 orang
– BTN Lasoani: 300 orang
– Lapangan Kawatuna: 300 orang
– Mako Satbrimob Mamboro: 400 orangg
– Polda Baru Soetta: 200 orang

Menurut BMKG, gempa yang terjadi di Donggala dan Palu diakibatkan pergerakan lempeng bumi yang tepat berada di bawah Pulau Sulawesi. Hal ini terjadi akibat Sesar Palu-Koro yang merupakan patahan kerak bumi yang terbentang dari Teluk Palu hingga Lembah Koro. Sesar ini dinilai aktif yang melewati wilayah Kota Palu, Toraja, Poso dan Teluk Bone. (Ruslan)

 

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.