Haryono SH: Oknum PNS Pemalsu Surat Harus Mengembalikan Gajinya ke Negara

LOGIKANEWS.COM – Prilaku oknum PNS (Pegawai Negeri Sipil)  untuk mendapatkan uang haram nampaknya akan menjadi budaya di Indonesia apabila tidak mendapatkan sangsi tegas dari penegak hukum. Sogok menyogok, suap menyuap, gratifikasi akan dianggap legal. Artinya, perbuatan salah dan melanggar norma agama dan norma hukum di Negara Indonesia sudah dianggap hal lumrah.

Dan tentunya, apabila prilaku ini sudah mengakar dan membudaya, maka hal ini secara perlahan akan merusak sendi-sendi sendi kehidupan. Karena banyak orang berani dan tegas merampas hak orang lain. Tanpa disadari juga, prilakunya akan merugikan diri sendiri dan masa depan anak-anaknya.

Begitulah kiranya apabila pegawai negara, yang dalam menempuh proses meraih cita-citanya dilakukan dengan cara haram. Memalsukan dokumen yang termasuk dalam prilaku pidana seperti disebutkan dalam Pasal 263 Kitab Undang-undang Hukum Pidana ( KUHP). Sangsinya, pelaku pemalsuan surat diancam hukuman kurungan selama Enam Tahun.

Sedangkan menurut ajaran Agama Islam, prilaku suap dan menyuap serta melakukan kebohongan dan pemalsuan akan menjadikan uang yang haram serta akan menjauhkan dari kebahagiaan, karena tidak barokah.

Menyikapi persoalan tersebut, salah satu tokoh kharismatik di Kabupaten Garut, Haryono SH saat dimintai tanggapannya terkait dugaan oknum PNS yang melakukan pemalsuan surat atau dokumen menyebutkan, apabila ada oknum PNS yang terbukti melakukan pemalsuan surat, maka jelas sangsinya sudah disebutkan dalam Pasal 263 KUHP. “Apabila terbukti, maka sangsi bagi PNS yang memalsukan surat ditahan selama Enam Tahun,” tegas Haryono.

Selain itu, menurut Haryono SH, karena dasar kerja yang digunakan diperoleh berdasarkan surat palsu atau pemalsuan surat, maka oknum PNS ini harus mengembalikan uang ke negara selama ia bekerja. “Kalau terbukti, selain ditahan Enam tahun, maka oknum PNS ini juga telah merugikan negara. Maka, selayaknya oknum PNS ini harus mengembalikan uang ke negara,” paparnya.

Sementara itu, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 263 disebutkan (1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam, jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama Enam tahun.

(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan, seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian. “Penegak hukum harus mengusut tuntas persoalan CPNS di Kabupaten Garut. Pasalnya, kalua ini dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk bagi rakyat dan bangsa ini. Jiwa-jiwa penipu, manipulative harus diberi sangsi tegas. Oknum PNS ynag terbukti bersalah, harus diberi efek jera,” ungkap Sekjen Balai Musyawarah Indonesia (Bamuswari) DPC kabupaten Garut, Yogi Iskandar dengan nada tinggi.

Sebelumnya, LogikaNews.Com menulis tentang temuan dugaan pemalsuan surat oleh oknum PNS yang digunakan sebagai persyaratan seleksi CPNS Garut Kategori 2 (K2) Tahun 2014. Surat Tugas yang diduga ditandatangani Kepala Dinas salah satu instansi tidak sesuai dengan daftar riwayat kerja di tempat oknum PNS ini bekerja sebagai tenaga Sukarelawan (Sukwan). (Asep Ahmad)

 

 

LOGIKANEWS.COM

Diterbitkan Oleh : PT Tangguh Tunggal Media (No AHU -0021249.AH.0101.Tahun 2017 Tentang Perusahaan Media) Penerbitan sesuai: 1. UU no 40 Tahun 1999 tentang Pers 2. Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers tertanggal 30 Januari 2012 3. Surat Edaran Dewan Pers No. 01/SE-DP/I/2014 tentang pelaksanaan UU Pers dan Standar Perusahaan Pers. Redaksi www.logikanews.com Pemimpin Umum dan Penanggung Jawab: Asep Ahmad Pimpinan Redaksi: Asep Ahmad Wartawan: Asep Ahmad, Syarif Hidayat, Rian Sutisna, Janoka, Asep Ruslan, N.I Nurlaela, Ridwan Arif Pengaduan: 081287075222

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *