Kisah Nyata – Karena Sudah Berusia 55 Tahun Pejabat Garut Menolak Jabatan Kepala Dinas

TIDAK HAUS JABATAN: Di Kabupaten Garut, di era kepemimpinan Rudy Gunawan-Helmi Budiman ada salah satu pejabat yang tidak mengharapkan jabatan tinggi, mengingat usianya yang disadarinya sudah tidak lagi energik. Hal ini berbanding terbalik dengan peristiwa pada umumnya. Banyak ditemui pejabat yang usianya sudah memasuki masa pensiun, tetapi memiliki jabatan strategis dan vital di pemerintah. (FT: Asep Ahmad)

Penulis: Asep Ahmad / Pemred logikanews.com

Kali ini, dalam rubrik Catatan Redaksi, penulis tidak menuliskan nama dan jabatan nara sumber. Karena nara sumber tidak meminta ataupun melarang untuk dituliskan cerita dan pesan mulianya. Tulisan ini hanya inisiatif penulis, karena mengandung pesan yang akan bermanfaat bagi banyak orang. Tulisan ini diangkat dari kisah nyata salah satu pejabat yang tidak haus jabatan dan pujian. Pejabat ini menyampaikan bahwa jabatan merupakan amanah dan harus dijalankan oleh orang yang tepat.

Hari Rabu sore, tanggal 04 September 2019 sekitar pukul 15.28 WIB saya sengaja menghubungi salah satu pejabat Garut melalui ponselnya. Pejabat ini dikenal sejumlah ASN (Aparatur Sipil Negara) di lingkungan Pemkab Garut sebagai figur yang tegas, baik, jujur dan religius. Selain itu, pejabat ini dikenal sebagai putra dari salah satu keluarga dari kalangan menengah keatas. Namun demikian, pejabat yang disegani sesama pejabat ini sangat familiar. Mudah bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan penulis.

Karena kesibukannya di kantor, pejabat ini tidak membalas chat yang saya kirimkan melalui WhatsApp dan telfon. Tetapi, sekitar pukul 16.11 WIB, pejabat ini menelfon balik penulis. “Maaf tadi tidak terjawab telfonnya. Sekarang saya lagi santai, saya tunggu di kantor. Pak Asep lagi dimana,” ujar pejabat yang menghubungi balik penulis setelah sekitar 40 menit tidak ada kabar.

“Silahkan masuk pak Asep. Barangkali mau air kopi,” ujar pejabat ini memberikan sambutan hangat kepada penulis, dengan mempersilahkan masuk ke ruangannya sambil menawarkan minuman hangat.

Mungkin bagi sebagian pejabat, kuli tinta alias jurnalis atau lebih dikenal sebagai wartawan memang dikenal sebagai profesi yang mulia dan elegant. Sehingga siapapun kuli tintanya akan mendapatkan suatu penghargaan dari sebagian pejabat. Nah, pejabat ini sepertinya tidak melihat profesi ketika dia bercengkarama dengan seseorang. Dia menyebut setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan tuhan, Allah SWT.

“Kemana saja Pak Asep. Beberapa hari ini ada urusan kantor yang cukup melelahkan. Sampai-sampai saya harus begadang sampai dini hari. Tetapi saya tidak terbiasa kalau harus istirahat di rumah. Kadang istri yang suka nangis, kalau saya terlalu capek,” ucap pejabat yang kantung matanya terlihat gelap, pertanda kurang tidur.

Walau terlihat capek, tetapi dari bibir pejabat ini masih terlihat senyuman yang tulus. Penulis sudah bertemu sekitar Tujuh kali dalam kurun waktu Lima Tahun dengan pejabat ini. Penerimaan, sambutan dan keramahannya masih sama seperti pertamakali bertemu. Penulis sangat senang bertemu dengan pejabat yang satu ini, karena sering menyampaikan pesan-pesan moral dan ilmu pengetahuan agama yang mudah dipahami.

Tujuan awal penulis menghubungi pejabat ini untuk mengenalkan salah satu produk media yang mulai saya kembangkan di berbagai kota. Produk media asli karya warga Garut yang akan dikembangkan hingga ke luar negeri. Ya, saat itu saya akan mengenalkan visi dan misi media cetak dan digital yang akan saya kembangkan bersama media yang saya bangun sebelumnya. Nama media yang saya perkenalkan adalah Salman Magazine.

Karena beberapa pekan ini Pemkab Garut tengah melakukan rotasi dan mutasi, maka pada kesempatan itu penulis bertanya tentang pandangannya terhadap persaingan perebutan kursi jabatan di tingkat eselon II atau setingkat kepala dinas. Namun ternyata, yang saya dengar jauh panggang dari api. Pejabat ini malah mengaku tidak mau jabatan yang lebih tinggi, mengingat usianya yang tidak lagi muda yaitu memasuki usia 55 tahun. Selama belasan tahun, tepatnya sejak tahun 2004 lalu menekuni profesi ini, penulis baru pertamakalinya mendengar pengakuan seorang pejabat yang terbilang unik. Pengakuan sangat luar biasa, yang menandakan pria ini tidak haus jabatan dan pujian.

“Maaf sekali Pak Asep. Di usia saya yang memasuki 55 tahun, bukan saatnya saya harus mengemban amanah setingkat eselon II. Saya menyeimbangkan posisi dengan usia saya. Kemampuan berfikir, tenaga dan kelincahan saya sudah kurang produktif. Maka menurut nalar saya, di usia seperti saya seharusnya menjadi penengah. Jabatan eselon II lebih tepat dimandatkan kepada pejabat yang berpengalaman, tetapi masih segar. Masih bisa lari mengejar keinginan pimpinan,” terangnya.

Menurutnya, dikala usia yang tidak lagi produktif, dirinya memilih untuk mendorong pejabat yang masih fresh dan menjadi penyemangat para pejabat yang posisinya berada dibawah dia. “Di usia seperti saya, lebih baik mendorong pejabat yang lebih energik, tetapi kita bisa mengingatkan atasan, apabila melakukan kesalahan atau kelalaian. Kepada pejabat yang tingkatannya berada di bawah, kita bisa memberikan semangat, motivasi sekaligus arahan agar mereka bisa bekerja lebih baik,” bebernya.

Jabatan, sambung pejabat ini, merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia dan Tuhan. Jangan sampai diusia senja, kemudian diberikan jabatan strategis, lalu hanya memikirkan pendapatan dan pundi-pundi kekayaan dengan alasan mengumpulkan harta untuk anak dan cucu.

“Dengan alasan usia, pejabat jangan hanya duduk di kursi saja, tetapi menginginkan pendapatan yang lebih besar. Apalagi, karena mau memasuki usia pensiun prilaku serakah malah muncul, lalu melakukan korupsi dengan alasan untuk bekal di masa tua dan bekal untuk anak, istri serta cucu. Biarkan jabatan strategis dan membutuhkan energi besar itu diberikan kepada pejabat yang masih kuat,” tandasnya.

Pejabat ini menambahkan, ketika manusia memasuki usia tua, seharusnya lebih mempersiapkan diri untuk pulang ke maha pencipta, Allah SWT. Manusia terlahir tanpa sehelai benang pun dan ketika dipanggil oleh sang maha pencipta pun tidak akan membawa apa-apa.

“Bukan saya menampik amanah dengan menolak jabatan lebih tinggi, namun saya menyesuaikan dengan kemampuan saya. Pejabat di usia saya kurang menguasai tekhnologi yang serba canggih, mudah lelah dan hal lain karena faktor usia. Walaupun hidup dan mati hanya Allah SWT yang tahu, tetapi saat ini saya lebih fokus untuk mempersiapkan diri mencari bekal amal ibadah,” ucapnya dengan nada lemah lembut.

Pejabat yang tanpa sadar kisahnya ini akan dirilis penulis, terus memberikan pesan kepada penulis. Dirinya merasa bersyukur, karena Allah SWT masih menutupi kekurangannya. Dirinya berterimakasih kepada siapa saja yang mengingatkannya dalam menjalankan tugasnya sebagai pejabat di pemerintahan.

“Kesalahan, kekurangan dan kelalaian saya selaku pejabat mungkin ada. Tetapi Allah SWT mungkin masih menutupi aib kita. Untuk itu, ketika ada pejabat yang viral karena aibnya, maka Allah SWT masih sayang terhadap umatnya. Itu menjadi teguran dan cobaan yang harus diperbaiki di dunia. Bekerjalah sesuai dengan baik, karena aparat pemerintah itu memiliki tugas yang mulia,” katanya.

Kepada penulis, pejabat ini secara tidak langsung meminta untuk melakukan fungsinya sesuai dengan aturan yang berlaku. Melakukan konfirmasi kepada semua pihak, agar berita yang disampaikan itu memiliki nilai edukasi dan kebenaran.

“Tidak ada salahnya apabila mengingatkan dulu pejabat mana saja yang diduga melakukan pelanggaran atau kelalaian. Mungkin saya kesalahan itu tidak disengaja. Kontrol sosial itu sangat penting, maka ketika pejabat sudah diingatkan, diberi tahu tetapi tetap melakukan pelanggaran mungkin itu yang harus diberi sangsi tegas,” imbuhnya.

Diakhir perbincangan pejabat ini kembali menyebutkan, sebagai muslim harus menjalankan ajaran agama Islam yang dianutnya. Shalat lima waktu dan ibadah yang lainnya jangan pernah ditinggalkan. “Ketika berita itu disampaikan dalam rangka ibadah, maka yakin akan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi semuanya. Sebagai manusia, kita memiliki kewajiban untuk mengingat dan menjalankan perintah Allah SWT serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan mahluk hidup lainnya,” pungkasnya. (***)   

 

LOGIKANEWS.COM

Diterbitkan Oleh : PT Tangguh Tunggal Media (No AHU -0021249.AH.0101.Tahun 2017 Tentang Perusahaan Media) Penerbitan sesuai: 1. UU no 40 Tahun 1999 tentang Pers 2. Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers tertanggal 30 Januari 2012 3. Surat Edaran Dewan Pers No. 01/SE-DP/I/2014 tentang pelaksanaan UU Pers dan Standar Perusahaan Pers. Redaksi www.logikanews.com Pemimpin Umum dan Penanggung Jawab: Asep Ahmad Pimpinan Redaksi: Asep Ahmad Wartawan: Asep Ahmad, Syarif Hidayat, Rian Sutisna, Janoka, Asep Ruslan, N.I Nurlaela, Ridwan Arif Pengaduan: 081287075222

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *