Konferensi Perlebahan Asia ke-14, Ajang Tukar Informasi, Teknologi dan Hasil Penelitian Terkini Lebah

0 154
Para pakar lebah, praktisi lebar dan penggiat madu Indonesia dan asia berkumpul (Ft : Ruslan)

LOGIKANEWS.COM – Masyarakat Indonesia patut berbangga, karena di tahun 2018 ini Indonesia menjadi tuan rumah digelarnya Konferensi Perlebahan Asia ke-14 atau 14th Asian Apicultural Conference (AAA-14) dengan tema “Bees Environmental and Sustainability” yang berlangsung dari tanggal 22 – 25 Oktober 2018 di Marlynn Park Hotel, Jakarta.

Masyhud Sekretaris Jenderal Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) kepada Logikanews.com (Group Majalah Logika & Majalah Intan) menjelaskan, Indonesia adalah kali kedua menjadi tuan rumah konferensi pengembangan lebah dan madu terbesar se-Asia tersebut.
Sebelumnya Indonesia pernah menjadi tuan rumah perhelatan acara serupa pada tahun 1994, yaitu Konferensi Perlebahan Asia ke-2 di Yogyakarta.
Pada konferensi tahun ini 300 delegasi Asosiasi Perlebahan se-Asia dari 30 negara hadir, antara lain: China, Arab Saudi, Korea Selatan, Jepang, Filipina, India, Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Selain itu, beberapa tamu juga datang dari Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Australia dan Mesir.
Masyhud menjelaskan, Konferensi Asosiasi Perlebahan Asia ke-14 merupakan agenda dua tahunan yang mempertemukan semua praktisi Perlebahan Asia. “Konferensi ini diharapkan mampu menjadi wahana pertukaran informasi kemajuan teknologi dan hasil penelitian terkini dalam dunia perlebahan Asia,” kata Masyhud dalam siaran persnya di Marlynn Park Hotel, Jakarta, Senin (22/10/2018).
Konferensi ini diharapkan menjadi wahana promosi bagi para pelaku usaha perlebahan terhadap pengembangan produk perlebahan baru, penguatan jejaring pelaku, pemerhati dan pembina usaha perlebahan serta upaya memfasilitasi para penggiat perlebahan Indonesia mempromosikan usahanya kepada dunia Internasional.
“Saat ini produksi dan konsumsi madu alami yang berasal dari lebah di Indonesia masih sangat kecil,” ujar Masyud pula.
Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produk Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hilman Nugroho mengakui tingkat konsumsi madu masyarakat Indonesia masih rendah.
Tingkat konsumsi yang rendah umumnya disebabkan anggapan sebagian besar masyarakat bahwa madu merupakan kebutuhan sekunder dan daya beli yang masih lemah. Konsumsi madu masyarakat Indonesia diperkirakan hanya sekitar 40-60 gram per kapita per tahun.
Angka ini masih jauh dibandingkan beberapa negara maju yang tingkat konsumsinya mencapai rata-rata satu kilogram per kapita per tahun. Bahkan, konsumsi madu di Selandia Baru sudah mencapai dua kilogram per tahun per kapita.
Menurut Hilman, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang madu hanya sebagai obat atau sarana pengobatan. Sejauh ini pangsa pasar madu di dalam negeri berasal dari produk madu lokal dan pasokan dari luar negeri. Kebutuhan madu impor berkisar antara 1.500-2.500 ton per tahun.
Padahal, potensi pengembangan perlebahan sangat besar dengan luas lahan hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia yang beragam. “Indonesia adalah megabiodiversitas lebah madu, karena tujuh dari sembilan spesies lebah madu genus Apis di dunia memiliki sebaran asli di Indonesia,” ujar Hilman. (Ruslan)

Stand delegasi dari Beijing Vhina (Ft: Ruslan)
You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.