Pengawasan Penyaluran Gas 3 Kg Dipertanyakan

0 82

LOGIKANEWS.COM – Mondar-mandir beberapa orang warga Maracang, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, diantaranya mengaku bernama Yuli (40), Jum’at (31/8/2018) ke sebuah halaman ruko milik warga setempat yang diduga dijadikan “Pangkalan Bayangan” atau Pangkalan yang tidak sesuai standar. Apabila ini benar, maka jelas hal ini menjadi salah satu bukti buruknya pengawasan penyaluran Gas Elpiji 3 Kg Bersubsidi Pemerintah untuk warga masyarakat miskin di Kabupaten Purwakarta yang sejak lama terdengar masih tetap berlangsung.

Berbagai alasan para oknum membela diri guna menutupi kekurangan mereka. Hal ini juga menjadi peluang oknum-oknum baru yang sebelumnya baik tidak ada kesempatan mendukung pelanggaran. Dengan berbagai pelanggaran akhirnya para oknum satu dengan lainnya semakin marak dan saling menutupi demi keuntungan mereka.

Rencana pihak-pihak terkait termasuk diantaranya pengusaha SPBE dan Lembaga Perlindungan Konsumen (LPKSM) yang siap ke Ombusdman pun masih sebatas wacana. Sampai saat ini muncul pertanyaan, benarkah mereka siap menyampaikan pendapatnya kepada publik perihal fakta penyaluran gas elpiji 3 kg untuk warga tidak mampu?

Warga miskin yang berhak tetap masih ada yang mengeluh karena kesulitan dan mahalnya gas bersubsidi tersebut. Untuk sebuah tabung isi dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai Peraturan Daerah (Perda) setempat warga harus rela menunggu berjam-jam.

Sebelumnya mereka pun harus bertanya kesana kemari, tentang waktu Truk pengangkut tabung isi gas 3 kg datang sehingga mereka bisa menunggu untuk membeli gas itu. Jika tidak belum tentu dapat bagian kesempatan membeli gas 3 kg bersubsidi untuk warga miskin dengan harga lebih murah.

Alternatif warga jika tidak sempat menunggu truk pengangkut tabung isi gas 3 Kg, dengan menitipkan uang dan tabung kosong ke pemilik warung yang biasa mendapatkan untuk dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Jika hal itu tidak sempat dilakukan juga oleh warga, maka dengan terpaksa melakukan alternatif lainnya, yakni denga mencari warung-warung yang menjual gas melon isi gas 3 kg dengan harga fantastis.

Dari peristiwa ini muncul dugaan bahwa penjual di warung membeli gas 3 Kg dari pengelola pangkalan pada jam dan hari tertentu, namun dengan harga lebih mahal atau diatas harga yang ditentukan peraturan daerah.

Pantauan media di lapangan, pangkalan bayangan tersebut biasanya didatangi truk pengangkut tabung gas melon isi 3 Kg milik Agen salah satu PT, setiap hari Selasa dan Kamis. Pemilik Agen diduga kuat Nn salah seorang pengurus Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DPC Purwakarta-Karawang yang membidangi penyaluran gas 3 Kg bersubsidi Pemerintah untuk warga miskin.

Ujang Supono (51) anggota Badan Perlindungan Konsumen (BPSK) setempat di tempat kerjanya kepada media, Jum’at (31/8/2018) menegaskan, standar dan perizinan pangkalan gas melon 3 Kg bersubsidi kewenangan pemerintah, pihak PT. Pertamina dan Hiswana Migas pasti paham betul tentang hal itu, kewenangan BPSK apabila ada keluhan tentang barang dan jasa.

Dicontohkannya, apabila ada warga yang berulang kali membeli gas 3 kg bersubsidi mencurigai ada ketidak sesuaian timbangan, dipersilahkan untuk membawa tabung isi yang masih ada segelnya dibawa ke BPSK dengan membawa jati diri untuk menceritakan kronologisnya.

“Jika ada tindak pidana pihaknya akan merekomendasi pelapor ke pihak berwajib untuk diverbal, yang akan diajukan ke Kejaksaan agar diproses pengadilan guna keputusan bersalah tidaknya,” ungkap anggota BPSK tersebut. (LL).

RUKO: Salah satu ruko yang diduga digunakan salah satu pengusaha sebagai pangkalan Gas 3 Kg. (FT: LL)
TURUNKAN: Selang beberapa waktu, di depan salah satu Ruko datang Satu Unit Truk yang membawa Gas 3 Kg. Kedatangan pengangkut Gas ini sangat diharapkan oleh warga yang membutuhkan Gas 3 Kg. (FT: LL)
HISWANA: Ruko dan Truk pembawa gas 3 Kg diduga kuat milik salah satu anggota Hiswana Purwakarta – Karawang. (FT: LL)
You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.