Perjuangan Panjang Mantan Camat dan Pecinta Alam, Membuka Akses Wisata Alam Situ Cibuni Larang

 

LOGIKANEWS.COM – Situ Cibereum atau Situ Cibuni Larang merupakan salah satu potensi di bidang Pariwisata yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Garut. Di tempat ini sekarang berdiri sarana dan prasarana pariwisata yang dibangun oleh hasil kerja keras masyarakat setempat. Namun, karena minimnya anggaran, Situ Cibuni Larang sampai kini belum memiliki sarana dan akses yang begitu baik.

Namun demikian, di lokasi Situ Cibuni Larang berdiri Camping Ground dan Down Hill sebagai kawasan Crosser atau track untuk pecinta motor. Sebagian kecil masyarakat Garut sudah menjadikan loaksi ini sebagai lokasi untuk perkemahan dan olahraga Sepeda Motor.

Ternyata, keberadaan Situ Cibuni Larang ini memiliki nilai sejarah yang patut ditulis oleh Pemerintah. Pasalnya, Situ Cibuni Larang tidak serta merta bisa dinikmati masyarakat saat ini tanpa perjuangan seorang tokoh lingkungan di Kabupaten Garut, Aang Suhana beserta rekan-rekan pecinta alam lainnya di Kabupaten Garut.

Untuk membuka akses Situ Cibeureum atau Cibuni Larang ini Aang Suhana dan pecinta alam membutuhkan waktu selama kurang lebih Tiga tahun. Tepatnya, sejak  tahun 2003 sampai 2005 yang lalu, Aang Suhana, masyarakat dan pecinta alam harus bekerja ekstra keras, agar bisa menemukan lokasi serta menertibkan akses Situ Cibuni Larang.

PERJUANGAN: Tokoh masyarakat Samarang sekaligus mantan Camat Kecamatan Samarang, Aang Suhana didampingi Pecinta Alam Jenggala, Ato S, Unit SAR Pramuka Garut, Zainudin Arif dan Owner Areniss Caffee and Store, Jo Santos menyampaikan sejarah dan perjuangan panjang dirinya beserta pecinta alam dan masyarakat melakukan pencarian lokasi Situ Cibuni Larang kepada media LogikaNews.Com (Ft: Ist)

“Awalnya dinamakan Situ Cibeureum, karena disaat melakukan kegiatan dan menyebar undangan untuk melaksanakan syukuran di lokasi Situ, saat itu saya tidak tahu nama Situ ini yang sebenarnya. Karena melihat di sekitar Situ ada sungai kecil berwarna Buereum (Merah,red), akhirnya secara spontan disebut Situ Cibeureum,” ujar Aang Suhana, mengawali pembicaraan tentang Situ Cibuni Larang.

Sejarah membuka akses Situ Cibuni Larang ini juga dikenal sangat dekat dengan nuansa mistis. Banyak hal yang diluar nalar manusia banyak terjadi dan dilamai oleh Aang Suhana dan warga masyarakat serta pecinta alam. Salah satunya, tentang datangnya Dua orang tanpa diundang. Kedatangan dua sosok misterius ini tanpa diduga dan terjadi cukup cepat.

“Setelah saya mengumumkan nama Situ Cibeureum, tiba-tiba ada dua orang pria dari dalam hutan. Kedua orang ini usianya sudah sangat tua dan mencari saya. Setelah bertemu, kedua orang misterius ini hanya menyampaikan bahwa nama Situ tersebut bukan Situ Cibeureum, tetapi memiliki nama Situ Cibuni Larang. Setelah mereka menyampaikan nama situ yang sebenarnya, mereka pun kembali ke hutan. Saya beserta masyarakat tidak tahu siapa kedua sosok itu,” ungkap Aang Suhana, diamini Ketua Pecinta Alam Jenggala, Kang Atos S dan Unit SAR pramuka Kwarcab Garut, Kang Zaenudin Arif.

Saat itu, ucap Aang Suhana, dirinya masih aktif bekerja sebagai Camat di Kecamatan Samarang. Awal mula mencari lokasi Situ Cibuni Larang dilatarbelakangi oleh peristiwa kekeringan di musim kemarau. Beberapa kampung di sekitar Kampung Legok Bulus dan sekitarnya kesulitan air. Kemudian Camat Aang mencari informasi dari beberapa tokoh tentang mata air atau sumber mata air di sekitar Desa Legok Bulus.

Kemudian sampailah informasi ke telinga Aang Suhana, bahwa zaman dahulu ada sebuah Telaga di tengah hutan Legok Bulus, yang masih termasuk kawasan Gunung Guntur. Setelah menerima informasi lalu dicarilah lokasi tersebut. Dikarenakan, pemberi informasi juga tidak ingat lokasi telaga tersebut, maka Aang Suhana harus bekerja keras, untuk memmastikan keberadaan telaga tersebut.

“Sekitar 50 tahun lalu Situ Cibuni Larang sudah dianggap hilang. Maka saya pun terus mencari lokasi itu selama Dua Bulan. Kemudian ditemukan lokasi atau kawasan yang terdiri dari hamparan semak belukar dengan luas sekitar Lima Hektar, yang terdiri dari tujuh petak. Setelah menemukan hamparan itu, saya mengajak beberapa pihak pecinta alam dan Pramuka. Dan ternyata, memang ada tanda-tanda lokasi itu bekas genangan. Sejak itulah dilakukan rembuk untuk melakukan revitalisasi. Revitalisasi pertamakali dilaksanakan tanggal 16-18 Mei 2003,” beber Aang Suhana panjang lebar.

Selanjutnya, sesuai permintaan dari masyarakat, setiap hari Jumat sampai Minggu dilakukan kerja bhakti atau gotong royong membenahi lokasi Situ Cibuni Larang. Selama Tiga Tahun. Pecinta alam Jenggala, Rekapala, Gerhana, Relaga, Kelapa, Pramuka dan lainnya terus berjuang menertibkan lokasi Situ Cibuni Larang. “Dari kerja keras ini, ada sejarah panjang tentang perjuangan masyarakat yang bekerja keras membuka lokasi Situ. Selama hampir Satu Setengah Tahun baru terbantu setengah badan lokasi situ dan terjadi penggenangan. Air berasal dari berbagai sumber mata air yang jatuh tanpa arah dan di arahkan ke situ.” Paparnya.

Aang Suhana menambahkan, awal pembangunan Situ Cibuni Larang ini,  bukan hanya sekedar mencari sumber mata  air saja. Tetapi  juga, Aang dan pihak lainnya berharap di lokasi ini bisa  menjadi tempat  wisata dan tempat rekreasi masyarakat setempat. Pihak Aang Suhana merasa lebih yakin bisa mengembangkan lokasi Situ Cibuni Larang sebagai tempat pariwisata dan edukasi, dikarenakan tempat ini juga disebut-sebut sebagai lokasi para tokoh besar.

“Dan ternyata, di tempat ini juga, tokoh-tokoh agama membuat satu markas yang disebut Hizbullah. Di lokasi Situ inilah mereka berkumpul dan membuat tempat. Lokasi tempat ini cukup tersembunyi, berada sekitar Dua Kilo Meter dari pemukiman warga. Alhamdulillah, Pak Solihin GP selaku pemerhati hutan dan mantan Gubernur Jabar pernah datang langsung dan memantau lokasi Situ. Sejak itulah Situ Cibuni Larang dikenal sampai mancanegara,” ungkapnya.

Selain itu, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang memiliki rencana untuk membuat Arboretum tidak mencari tempat lain, tetapi langsung mendirikan kantor di lokasi Situ. Lokasi Situ Cibuni Larang selain baik untuk wisatawan, juga cocok ditanami untuk Kopi dan Pohon Aren. Lokasi ini juga digunakan sebagai sebagai pusat pelatihan Pramuka, perkemahan, pendidikan SAR, pendidikan dasar pecinta alam serta kegiatan outbound. (Asep Ahmad)

LOGIKANEWS.COM

Diterbitkan Oleh : PT Tangguh Tunggal Media (No AHU -0021249.AH.0101.Tahun 2017 Tentang Perusahaan Media) Penerbitan sesuai: 1. UU no 40 Tahun 1999 tentang Pers 2. Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers tertanggal 30 Januari 2012 3. Surat Edaran Dewan Pers No. 01/SE-DP/I/2014 tentang pelaksanaan UU Pers dan Standar Perusahaan Pers. Redaksi www.logikanews.com Pemimpin Umum dan Penanggung Jawab: Asep Ahmad Pimpinan Redaksi: Asep Ahmad Wartawan: Asep Ahmad, Syarif Hidayat, Rian Sutisna, Janoka, Asep Ruslan, N.I Nurlaela, Ridwan Arif Pengaduan: 081287075222

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *