Ratno Suratno Kritisi Oknum DPR RI Lewat Lagu e-KTP

0 434

 “e KTP, Proyek Rusak Karya Dewan Terhormat, Proyek Sakti di Lingkaran yang Seksi Kue Bancakan Buat Perampok Negeri. e KTP, Syarat Makna Tentunya Syarat Arti, Tuan Terhormat Mengajari Kami Tipu Muslihat Menghindar Jeruji Besi. Pa Pa Pa Pa Ingatlah Saestune Gusti Niku Mboten Sare. Pa Pa Pa Masing Eling Dipundakmu Titipan Suara Negeri,”

Ratno Suratno

LOGIKANEWS.COM – Kasus korupsi yang melibatkan banyak oknum pejabat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yakni kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau e-KTP menjadi sejarah buruk bagi Bangsa dan Negara pemilik Bendera berwarna Merah Putih.

Warna merah sebagai lambang keberanian dan warna putih sebagai lambang kesucian ternodai oleh pejabat-pejabat berwatak bejat, penghisap darah rakyat dan berprilaku tidak waras. Di pundaknya yang terdapat amanah bagi rakyat dan negara, malah mereka lacurkan demi rupiah.

Tanpa berfikir panjang, di tengah kondisi bangsa yang sedang berduka, mereka malah melakukan tarian-tarian “iblis”. Uang negara, uang rakyat mereka hambur-hamburkan demi segenggam pujian, demi sejengkal langkah menuju kekuasaan semu. Dalam gumpalan kesedihan rakyat, mereka tertawa seperti para penjajah yang durjana.

Namun di Negara ini, di tanah Air Indonesia masih ada panglima kebenaran. Tarian ‘Iblis” dan nyanyian pesakitan yang dilakukan para durjana ini menjadi kaku tatkala penegak hukum memberikan mereka ganjaran. Walaupun dengan sejuta sandiwara yang dimainkan, namun pada akhirnya para oknum pejabat ini mendapat hukuman atas semua perbuatannya.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut terdengar suara lantang seorang seniman dari Kota Dodol. Dari mulutnya terlontar kritikan yang disajikan dengan nyanyian. Seniman dengan rambut agak gondrong namun selalu terikat rapih ini menyuarakan bahwa proyek e-KTP menjadi kue bancakan para perampok negeri.

“Saya merasa sedih dan kecewa kepada para oknum pejabat yang terlibat korupsi pengadaan KTP elektronik. Di saat masyarakat berlomba-lomba menjalankan kewajibannya sebagai warga negara, para oknum pejabat ini malah menari-nari diatas keprihatinan negara dan rakyat,” ujar Ratno Suratno yang ditemui LogikaNews.Com (Grup Majalah Logika dan Majalah Intan) di kediamannya, Jalan Subyadinata No. 7C Jayaraga, Kabupaten Garut.

Seniman yang akrab disapa Wa Ratno ini mengaku, sebagai masyarakat Indonesia dirinya merasa miris dengan kelakuan para pejabat berprilaku bejat. Sebagai ungkapan kekesalannya itu, Wa Ratno pun mengungkapkannya melalui nyanyian.

SENI MUSIK DAN BUDAYA: Ratno Suratno alias Wa Ratno dikenal memiliki kharisma dan wibawa yang cukup tinggi di Kabupaten Garut. (FT:Ist)

“e KTP Proyek Rusak Karya Dewan Terhormat, Proyek Sakti di Lingkaran yang Seksi Kue Bancakan Buat Perampok Negeri. e KTP, Syarat Makna Tentunya Syarat Arti, Tuan Terhormat Mengajari Kami Tipu Muslihat Menghindar Jeruji Besi. Pa Pa Pa Pa Ingatlah Saestuning Gusti Niku Mboten Sare. Pa Pa Pa Masing Eling Dipundakmu Titipan Suara Negeri,” begitulah bait-bait lagu ungkapan Wa Ratno yang disampaikannya melalui nyanyian.

Melalui lagu ini, Wa Ratno mewakili sebagian masyarakat yang tersakiti oleh perbuatan para oknum pejabat dalam menyampaikan kritikannya. Dan ternyata, kritikannya ini menjadi lagu yang diterima kalangan masyarakat. Bahkan, lagu ini digunakan sebagian orang sebagai RBT (Ring Back Tone) di ponselnya.

“Pekan ini, tepatnya hari Minggu 22 Juli 2018 saya merilis lagu dengan judul e-KTP.  Lagu ini berisi tentang kritikan terhadap keadaan dan peristiwa yang terjadi di Indonesia. Saya menilai adanya kesemrawaturan yang yang merugikan negara dan rakyat, salah satunya terkait pengadaan kasus e-KTP yang melibatkan banyak oknum penyelenggara negara dan pejabat penting,” tandas Wa Ratno.

Beberapa bait lagu yang mengkritik adalah kalimat Kue Banjakan Buat Perampok Negeri. Menurut Wa Ratno, para petinggi terhormat ini melakukan kerugian terhadap banyak orang dan melibatkan banyak oknum. Padahal, sambung Wa Ratno, para pejabat ini adalah pengayom masyarakat dan memiliki amanah yang besar, namun mereka malah berprilaku sebaliknya. “Bukannya memberi edukasi dan perlindungan kepada rakyat, tetapi malah berprilaku sebaliknya,” ungkapnya.

Lebih miris lagi, Wa Ratno menilai dengan prilaku itu para oknum pejabat ini mengajarkan dan memberikan contoh yang tidak terpuji. Sehingga rasa hormat yang seharusnya mereka dapatkan sama sekali tidak ada. Masyarakat merasa kecewa.

“Melalui lagu ini diharapkan masyarakat sadar dalam menentukan pilihannya ketika memilih calon anggota legislatif. Karena selama ini banyak anggota dewan yang tidak amanah. Banyak mengecewakan dan merusakan kedaulatan rakyat,” ungkapnya.

Wa Ratno juga berpesan, masyarakat harus benar-benar dan hati-hati dalam memilih dan menentukan pilihannya. Ketika banyak oknum anggota dewan yang memiliki pemikiran yang rusak, lalu apa yang akan diberikan kepada masyarakat. Jangankan kesejahteraan, edukasi saja tidak ada.

“Bagaimana nasib bangsa ini kedepan apabila wakil rakyat tidak memiliki hati nurani dan rasa malu,” ujarnya.

Di kediaman Wa Ratno terdapat taman kecil yang menjadi tempat istirahat sekaligus tempat menuangkan inspirasinya. Di taman inilah Wa Ratno menciptakan lagu e-KTP. Di tempat ini juga nampak lemari yang sudah cukup usia terisi  berbagai buku pengetahuan, alat musik gitar, baju-baju adat Sunda, kursi rotan dan lukisan tangan, kaligrafi dan seekor kucing berwarna hitam.

Suara kucing berbulu lebat ini menambah kemerduan nyanyain Wa Ratno. Aneka Majalah dan buku, juga menjadi sarapan bagi pria berkumis, jenggot dengan rambut sedikit panjang terikat rapih namun terikat rapih. Tim Majalah LogikaNews.Com yang duduk dikursi rotan mendapat sajian kopi hitam Arabika khas Kabupaten Garut. Sambutan yang cukup hangat dari seorang seniman yang aktif tampil di statsiun televisi milik pemerintah, TVRI.

Bagi sebagian orang, terutama seniman di Jawa Barat dan pecinta lingkungan sudah mengenal pria yang selalu tampil necis ini. Ratno Suratno, yang lahir di Bandung tanggal 19 September 1961 ini merupakan alumni SD Centeh, Malabar Kosambi Bandung, SMP Muslimin II Bandung dan STM Ganesha tahun 1981 serta Drop Out Akademik Universitas Mandala.

Chevron Gheotermal Indonesia dan Gerakan Hejo

 

BERTUKAR PIKIRAN: Kendati Wa ratno merupakan orang yang berkecukupan dan memiliki SDM yang cukup tinggi, namun ia tidak merasa hebat dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Dirinya kerap bertukar pikiran dan gagasan dengan masyarakat diantaranya petani. Ia juga kerap memberikan bantuan bibit pertanian di kabupaten Garut. (FT:Ist)

Selain seniman, Wa Ratno juga merupakan orang yang berkecukupan. Dia memiliki pengalaman karir cukup panjang. Awal berkarirnya, pemilik tiga anak ini pernah bekerja di PLTA Saguling pada tahun 1982-1983 akhir, Insalatur di Bekasi tahun 1983-1985. Sedangkan pada tahun 1985-1994 dia bekerja di Caltex Pasifix Indonesia Pekan Baru Riau hasil seleksi dari Bandung Jawa Barat. Setelah itu pada tahun 1994-2015 di aktif Chevron Gheotermal Indonesia (CGI).

Sebagai pekerja keras, Wa Ratno memiliki wanita pujaan. Dia menikah tahun 1990 di Bandung menyunting srikandi asal KPAD Geger Kalong Bandung, Harryani Dwikoraningsih. Hasil perkawinannya ini melahirkan tiga orang anak. Ridho Fajar Muhammad, Dwika Nur’aeni Umara dan Refo Akbar Imani.

Setelah pensiun dari Chevron, Wa Ratno memfokuskan dirinya di lembaga pegiat lingkungan. Walaupun sebenarnya, jauh sebelum itu dia juga sudah aktif sebagai pegiat lingkungan dengan mendirikan Dare (Darajat Ekologi), lembaga pegiat lingkungan yang terdiri dari karyawan dan kontraktor Chevron. Selain aktif sebagai aktivis lingkungan, Wa Ratno juga aktif di Bidang Seni dan Budaya.

Sebagai pria yang gemar mengamati lingkungan, seni dan budaya, Wa Ratno memiliki banyak relasi di lembaga seni musik di Garut, sehingga hampir setiap seniman dari usia muda hingga dewasa mengenal sosok Wa Ratno.

Di Lembaga yang bergerak di Lingkungan, Wa Ratno dipercaya sebagai Ketua Gerakan Hejo DPD Kabupaten Garut sejak tahun 2016. Gerakan Hejo merupakan lembaga yang berbasis lingkungan, budaya, edukasi dan ekonomi. Di lembaga ini Wa Ratno memimpin 23 Biro. Diantaranya Biro Kehutanan, Pertanian, DAS, Perikanan dan Kelautan. Ekonomi Kreatif, Humas, Hubungan Antar Lembaga, Pelatihan, Pendidikan, Edukasi dan ekonomi dan lainnya.

Di dunia seni musik, Wa Ratno sudah melahirkan banyak lagu. Ketua Garut Heritage ini juga di usia mudanya sudah banyak menciptakan lagu. Dan dua tahun terakhir mulai merilis lagu yang bertemakan lingkungan, budaya, sosial dan politik dengan versi Sunda.

Ada banyak cara bagi Wa Ratno untuk menyampaikan kekecewaan terhadap oknum para legislatif dan menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk selalu hati-hati menentukan calon imam di negeri ini.

Selain melalui lagu, dia juga aktif bersentuhan dengan masyarakat kalangan bawah. Para petani, seniman dan kalangan bawah lainnya. (Asep Ahmad) 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.