Warga Garut Lebih Tertarik Pilkada DKI Ketimbang Kota Tasikmalaya

GARUT – Pemilihan kepala daerah serentak tahun 2017 menjadi perhatian warga Kabupaten Garut, walaupun masyarakat Garut baru akan mengikuti Pilkada serentak tahun 2018 mendatang.

 Bagi sebagian warga Garut, Pilkada serentak merupakan bukti berjalannya proses demokrasi di Indonesia.  Untuk itu, walaupun saat ini perhelatan politik terjadi di beberapa kota di luar Garut, namun sejumlah masyarakat merasa perlu tahu tentang proses serta hasil penghitungan Pilkada yang saat ini berlangsung.

“Pilkada serentak menjadi warna baru dalam era demokrasi di Indonesia. Saya merasa wajib mengikuti perkembangan dan hasil pilkada di luar daerah. Karena hal itu bisa menambah wawasan juga,” ujar Jajat, warga Jayaraga, Kabupaten Garut.

Jajat yang notabene warga asli Garut, mengaku tertarik dengan Pilkada di DKI Jakarta ketimbang Pilkada di Kota Tasikmalaya, yang sama-sama melaksanakan perhitungan suara, yang dilaksanakan hari ini, Rabu (15/02/2017).

“Melihat figur para kandidat, perkembangan isu, suhu politik dan berbagai informasi yang berkembang di Pilkada DKI menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk mengikuti perkembangan Pilkada di DKI,” paparnya.

Dari tiga pasangan kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jajat menilai dua sosok yang dianggap bisa mendapatkan suara terbanyak.

“Pemimpin itu harus berani, tegas, visioner dan bisa bekerja. Maka pilihan tersebut bisa jatuh kepada Basuki Thahaja Purnama Alias Ahok. Tetapi bila melihat sosok lain seperti Anis Baswedan yang memiliki latar belakang akademisi dan berpengalaman menjadi menteri serta track record yang baik, santai dan hati-hati dalam berbicara maka pilihan  itu bisa jatuh pada Anis sebagai pilihan,” papar Jajat.

        Ketika ditanya soal figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Jajat berpendapat bahwa figur Agus memiliki ketegasan dan wibawa karena terlatih di kesatuan militer. Namun sayang, Agus masih terbilang cukup muda.

       Selain itu, kata Jajat, isu tentang sikap ayah dari AHY yakni Mantan Presiden RI ke 6 yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di sejumlah media bisa menjadi nilai negatif terhadap sosok AHY.

“Walau informasi yang berkembang tentang sikap SBY terhadap Antasari Azhar belum jelas kebenarannya, tetapi bisa menjadi efek negatif terhadap AHY. Apalagi ketika Antasari Azhar dengan berani menyebut HT telah datang menemui dirinya, untuk membicarakan kasus besan SBY yang sedang terkena kasus. Maka penilaian warga terhadap SBY bisa menjadi stigma negatif,” paparnya.

Jajat berharap, siapapun pemenang Pilkada DKI bisa menjaga keutuhan NKRI, menjaga keamanan dan kenyamanan serta meningkatkan taraf hidup bangsa.

“Kepada pemenang Pilkada DKI selamat bekerja. Semoga menjadi pejabat yang amanah dan mencintai rakyatnya dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya (asep ahmad)

LOGIKANEWS.COM

Diterbitkan Oleh : PT Tangguh Tunggal Media (No AHU -0021249.AH.0101.Tahun 2017 Tentang Perusahaan Media) Penerbitan sesuai: 1. UU no 40 Tahun 1999 tentang Pers 2. Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers tertanggal 30 Januari 2012 3. Surat Edaran Dewan Pers No. 01/SE-DP/I/2014 tentang pelaksanaan UU Pers dan Standar Perusahaan Pers. Redaksi www.logikanews.com Pemimpin Umum dan Penanggung Jawab: Asep Ahmad Pimpinan Redaksi: Asep Ahmad Wartawan: Asep Ahmad, Syarif Hidayat, Rian Sutisna, Janoka, Asep Ruslan, N.I Nurlaela, Ridwan Arif Pengaduan: 081287075222

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *